← Dashboard|Perpustakaan Digital Obsos
MK-01  โ€บ  Semester 1  โ€บ  Periode 1  โ€บ  Sesi 1
MODUL 04

Peta Besar Kehamilan-Nifas Berisiko dan Kontrasepsi pada Komorbiditas

SUMBER MATERI
Buku Utama Bab 4-5
AKTIVITAS
Tugas Kelompok 2
Capaian Pembelajaran Modul
  • Memahami gambaran umum kehamilan-nifas berisiko sosial dan kontrasepsi pada komorbiditas sebagai pengantar MK-02 dan MK-04.
Uraian Materi

Bab 4. Ringkasan Kehamilan, Persalinan, dan Nifas Berisiko Sosial (Rujuk Buku 1)

Buku 1 (Kehamilan-Nifas Biopsikososial) membahas secara rinci penatalaksanaan kehamilan, persalinan, dan masa nifas yang memiliki komponen risiko sosial-psikososial dominan โ€” kondisi yang pada Tabel 25 Kepkonsil tercakup dalam kompetensi prosedur klinis nomor 1 dan 2. Risiko sosial-psikososial kehamilan didefinisikan sebagai kombinasi faktor kemiskinan, keterbatasan pendidikan, paparan kekerasan dalam rumah tangga, stigma sosial, dan keterbatasan dukungan keluarga, yang secara empiris meningkatkan risiko luaran maternal-perinatal buruk melampaui yang dapat dijelaskan oleh faktor biomedis semata.

Tiga contoh instrumen skrining yang dibahas secara mendalam pada Buku 1 mencakup: instrumen skrining risiko sosial terintegrasi pada kunjungan antenatal pertama (menilai dukungan pasangan, riwayat KDRT, dan status ekonomi), instrumen skrining depresi dan ansietas perinatal tervalidasi untuk konteks Indonesia, serta instrumen skrining kesiapan psikososial menjelang persalinan dan masa nifas. Ketiga instrumen ini dirancang agar dapat diterapkan dalam waktu terbatas pada layanan antenatal rutin tanpa memerlukan pelatihan khusus tenaga non-spesialis.

Alur rujukan yang dibahas pada Buku 1 mengikuti prinsip stratifikasi risiko: kasus dengan risiko sosial-psikososial ringan ditangani dengan konseling dan pemantauan terjadwal di tingkat layanan primer atau poliklinik kebidanan rutin; kasus risiko sedang-berat dirujuk untuk asesmen multidisiplin (psikologi, pekerja sosial) sebelum persalinan; dan kasus dengan tanda bahaya akut (ideasi bunuh diri, kekerasan aktif) memerlukan intervensi darurat lintas sektor segera, termasuk kolaborasi dengan layanan pelindungan perempuan dan anak bila relevan.

Pembahasan lengkap mengenai patofisiologi, kriteria diagnosis, algoritma tata laksana tiap kondisi, dan studi kasus mendalam disajikan pada Buku 1: Kehamilan-Nifas Biopsikososial โ€” pembaca yang memerlukan penjelasan rinci mengenai topik ini dipersilakan merujuk langsung ke buku tersebut.

Bab 5. Ringkasan Keluarga Berencana dan Kontrasepsi Kompleks (Rujuk Buku 2)

Buku 2 (Kontrasepsi Komorbid) membahas konseling dan pemilihan kontrasepsi pada pasien dengan kondisi komorbid tinggi โ€” kardiovaskular, hematologi, kelainan anatomi, atau riwayat komplikasi obstetri berat โ€” sebagaimana tercakup dalam kompetensi prosedur klinis nomor 3, 4, 5, dan 6 pada Tabel 25 Kepkonsil. Prinsip konseling kontrasepsi nondirektif menuntut klinisi menyajikan seluruh pilihan metode yang secara medis aman bagi kondisi komorbid pasien, berikut keuntungan, risiko, dan cara kerja masing-masing, tanpa mengarahkan pasien pada metode tertentu berdasarkan preferensi klinisi maupun kemudahan administratif fasilitas.

Kategori komorbiditas tinggi yang dibahas mencakup pasien dengan gangguan koagulasi (memerlukan penilaian profil koagulasi sebelum pemasangan Long-Acting Reversible Contraception/LARC), kelainan anatomi uterus, riwayat tromboemboli, serta kondisi yang membatasi pilihan hormonal seperti migrain dengan aura atau riwayat kanker payudara. Pemasangan IUD/implan pada kasus kompleks menuntut persiapan pasien yang matang (laboratorium, pencitraan, profil risiko), kesiapan resusitasi, checklist keselamatan prosedur (WHO Surgical/Procedural Safety Checklist), serta dokumentasi templat lengkap mencakup indikasi, temuan, langkah prosedur, komplikasi, dan rencana tindak lanjut.

Indikasi kontrasepsi darurat dibahas dalam dua konteks berbeda: kegagalan penggunaan kontrasepsi rutin pada pasangan yang telah menikah, dan kasus perkosaan yang memerlukan pendekatan konseling psikologis khusus di samping edukasi metode (pil levonorgestrel atau IUD tembaga) serta pertimbangan waktu efektivitas pemberian. Pada kasus perkosaan, konseling kontrasepsi darurat harus terintegrasi dengan dokumentasi medikolegal dan rujukan psikososial sebagaimana dibahas lebih rinci pada Buku 6.

Pembahasan lengkap mengenai algoritma pemilihan metode per kondisi komorbid, teknik prosedural pemasangan LARC pada kasus sulit, dan tata laksana komplikasi pasca-pemasangan disajikan pada Buku 2: Kontrasepsi Komorbid.

Pertanyaan Diskusi
Jawab pertanyaan berikut pada halaman forum diskusi bersama. Mahasiswa dinyatakan aktif apabila menjawab minimal 2 pertanyaan dosen pada modul ini.
  • Apa keterkaitan antara skrining risiko sosial pada kehamilan dan pemilihan metode kontrasepsi pascasalin?
  • Mengapa konseling kontrasepsi pada pasien dengan komorbiditas kompleks memerlukan pendekatan yang berbeda dari konseling standar?
Tugas Kelompok 2
Materi: Modul 1-4

Buat peta konsep (concept map) yang menghubungkan determinan sosial kehamilan (Bab 1) dengan pilihan kontrasepsi pascasalin pada kasus komorbiditas (Bab 5). Presentasikan keterkaitan lintas topik ini dalam satu halaman infografis kelompok.

Referensi

Buku Utama โ€” Obstetri Ginekologi Sosial โ€” Seri Buku Ajar Obstetri Ginekologi Sosial.

Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia Nomor HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi.