← Dashboard|Perpustakaan Digital Obsos
MK-14  ›  Semester 4  ›  Periode 1  ›  Sesi 1
MODUL 01

Prinsip Andragogi dan Miller's Pyramid dalam Pendidikan Klinis

SUMBER MATERI
Buku 12 Bab 1
AKTIVITAS
Diskusi, tanpa tugas
Capaian Pembelajaran Modul
  • Menjelaskan prinsip andragogi dan penerapan Miller's Pyramid dalam pendidikan klinis.
Uraian Materi

BAB 1. PRINSIP ANDRAGOGI DAN MILLER'S PYRAMID DALAM PENDIDIKAN KLINIS

Pendidikan dokter subspesialis berbeda secara mendasar dari pendidikan kedokteran dasar karena pesertanya adalah profesional dewasa yang telah menuntaskan pendidikan Sp.OG, memiliki pengalaman klinis substansial, dan datang dengan motivasi intrinsik yang spesifik terhadap peran barunya sebagai konsultan Obstetri Ginekologi Sosial. Malcolm Knowles merumuskan enam asumsi andragogi yang menjadi dasar filosofis pendidikan klinis subspesialistik: kebutuhan untuk mengetahui alasan pembelajaran (need to know), konsep diri peserta didik sebagai pribadi yang mandiri (self-directing), peran pengalaman sebelumnya sebagai sumber belajar, kesiapan belajar yang berorientasi pada peran sosial dan tugas kehidupan nyata, orientasi belajar yang berpusat pada masalah (problem-centered) bukan mata pelajaran (subject-centered), serta motivasi yang lebih banyak berasal dari faktor internal dibanding eksternal.

Dalam konteks pendidikan klinis Obginsos, prinsip andragogi ini diterjemahkan menjadi beberapa konsekuensi praktis bagi pelatih. Pertama, setiap sesi pembelajaran—baik bedside teaching, diskusi kasus, maupun pelatihan keterampilan prosedural—perlu dibuka dengan penjelasan relevansi klinis yang eksplisit, bukan sekadar penyampaian teori. Kedua, pelatih perlu memosisikan diri sebagai fasilitator dan mitra reflektif, bukan sebagai figur otoritas tunggal yang mendikte jawaban benar-salah, mengingat peserta didik semester akhir umumnya telah memiliki pengalaman klinis independen sebagai spesialis Obstetri dan Ginekologi. Ketiga, pengalaman klinis peserta didik—termasuk kasus sulit yang pernah ditangani sebagai Sp.OG umum—harus secara aktif digali dan dijadikan bahan diskusi, bukan diabaikan. Keempat, materi pembelajaran idealnya disusun berbasis masalah biopsikososial nyata (problem-based) yang relevan dengan peran subspesialistik, seperti kasus kehamilan remaja dengan dimensi hukum, atau kekerasan berbasis gender yang memerlukan koordinasi lintas profesi.

George Miller pada tahun 1990 memperkenalkan kerangka piramida empat tingkat yang hingga kini menjadi rujukan universal dalam desain kurikulum dan penilaian kompetensi kedokteran, termasuk dalam pendidikan subspesialis. Piramida ini menggambarkan hierarki kompetensi dari dasar kognitif menuju perilaku aktual di tempat kerja, dengan setiap tingkat memerlukan metode penilaian yang berbeda karena mengukur konstruk yang berbeda pula.

Dua tingkat dasar piramida—knows dan knows how—berada pada domain kognitif dan secara tradisional diukur melalui instrumen tertulis atau lisan. Pada tingkat knows, penilaian berfokus pada penguasaan fakta, konsep, dan prinsip, misalnya pengetahuan tentang epidemiologi kehamilan remaja di Indonesia atau kerangka hukum UU TPKS. Pada tingkat knows how, peserta didik dituntut mengaplikasikan pengetahuan tersebut pada skenario klinis tertulis, seperti menyusun algoritma rujukan lintas profesi untuk kasus KDRT dengan mempertimbangkan keterbatasan sumber daya di fasilitas kesehatan primer. Kelemahan utama kedua metode ini adalah keduanya tidak dapat memastikan peserta didik benar-benar mampu melakukan tindakan tersebut secara nyata; seorang peserta didik dapat menjawab soal dengan sempurna namun kesulitan menerapkannya di hadapan pasien yang sesungguhnya.

Dua tingkat atas piramida bersifat behavioral dan memerlukan observasi langsung. Shows how diukur dalam lingkungan simulasi atau semi-terkontrol seperti OSCE, di mana peserta didik didemonstrasikan melakukan keterampilan tertentu di hadapan penguji dengan pasien standar atau manekin. Tingkat ini penting karena memberi kesempatan berlatih dan dinilai tanpa risiko terhadap pasien sungguhan, terutama untuk keterampilan sensitif seperti wawancara korban kekerasan seksual. Adapun does merupakan tingkat tertinggi dan paling sulit dinilai karena menuntut observasi perilaku nyata di lingkungan kerja otentik, tanpa peserta didik menyadari sedang dinilai secara ketat—sering disebut sebagai 'unobtrusive assessment'. Untuk Obginsos, tingkat does dapat dinilai melalui rekam jejak longitudinal penanganan kasus biopsikososial di poliklinik rujukan, umpan balik dari tim lintas profesi (psikolog, pekerja sosial), dan review portofolio kasus yang ditangani selama rotasi klinis.

Penerapan Miller's Pyramid dalam kurikulum PPDS Obginsos idealnya bersifat progresif dan longitudinal. Pada semester awal program (semester 1–2), penekanan kurikulum berada pada tingkat knows dan knows how melalui kuliah, telaah literatur, dan diskusi kasus tertulis mengenai kerangka biopsikososial, kesehatan mental perinatal, dan aspek medikolegal. Memasuki semester 3–4, penekanan bergeser ke shows how melalui simulasi terstruktur, termasuk OSCE formatif yang menilai keterampilan komunikasi krisis dan prosedur klinis spesifik. Pada semester akhir (4–5), sebagaimana relevan dengan peserta didik sasaran buku ini, penekanan seharusnya telah bergeser signifikan ke tingkat does, di mana peserta didik tidak hanya dinilai sebagai pembelajar tetapi mulai berperan sebagai pelatih bagi residen Obstetri dan Ginekologi junior—suatu transisi peran yang menjadi inti pembahasan pada bab-bab selanjutnya dalam buku ini.

Penting bagi pelatih klinis untuk menyadari bahwa kegagalan performa pada tingkat does tidak selalu mencerminkan kekurangan pengetahuan (knows), melainkan dapat disebabkan oleh faktor sistem seperti beban kerja berlebih, kurangnya dukungan supervisi, atau hambatan struktural dalam layanan. Miller sendiri menekankan bahwa piramida ini bukan sekadar alat ukur tetapi juga kerangka diagnostik untuk mengidentifikasi pada tingkat mana kesenjangan kompetensi terjadi, sehingga intervensi pendidikan dapat ditargetkan secara tepat—apakah diperlukan penguatan pengetahuan, latihan simulasi tambahan, atau justru perbaikan sistem kerja dan dukungan supervisi di lapangan.

Miller's Pyramid bukan sekadar kerangka teoretis, melainkan fondasi metodologis di balik Tabel 19 (Kompetensi Penatalaksanaan Klinis Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis/Konsultan Obstetri Ginekologi Sosial) dalam Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia Nomor HK.01.02/KKI/1318/2026. Tabel 19 menjabarkan sembilan komponen kompetensi penatalaksanaan klinis secara berurutan—anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, interpretasi hasil, diagnosis kerja dan banding, perencanaan terapi, evaluasi respons dan penyesuaian, penetapan prognosis, serta dokumentasi medis dan komunikasi—yang masing-masing disertai deskripsi kriteria kinerja minimal dan indikator kuantitatif (mis. dokumentasi kekerasan dalam rumah tangga 100%, penanganan kegawatdaruratan maternal sesuai protokol 100%, akurasi diagnosis kerja ≥85% melalui penilaian sejawat). Struktur ini pada dasarnya adalah operasionalisasi tingkat does pada Miller's Pyramid: setiap kriteria kinerja minimal dirumuskan sebagai perilaku klinis terukur di tempat kerja nyata, bukan sekadar pengetahuan yang diujikan secara tertulis, sehingga pelatih klinis wajib merancang metode penilaian workplace-based (mini-CEX, DOPS, portofolio) agar benar-benar selaras dengan maksud regulasi ini, bukan hanya mengandalkan ujian tertulis yang secara metodologis hanya mengukur tingkat knows dan knows how.

Padanan internasional kerangka ini dapat dilihat pada dua model kompetensi yang banyak diadopsi program pendidikan kedokteran pascasarjana di berbagai negara. Pertama, ACGME (Accreditation Council for Graduate Medical Education) bersama American Board of Obstetrics and Gynecology (ABOG) dan American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menerbitkan Milestones Project pada tahun 2014, yang menyusun kompetensi residensi Obstetri dan Ginekologi ke dalam dua puluh delapan sumbu kompetensi (competency axes) yang dijenjangkan pada lima tingkat pencapaian (milestones), serupa dengan logika hierarkis Miller's Pyramid namun dengan granularitas lebih tinggi. Kedua, CanMEDS Physician Competency Framework yang diterbitkan Royal College of Physicians and Surgeons of Canada—edisi terbaru CanMEDS 2015 masih menjadi rujukan resmi hingga saat buku ini disusun—mengorganisasi kompetensi dokter ke dalam tujuh peran (Medical Expert, Communicator, Collaborator, Leader, Health Advocate, Scholar, Professional), sebuah pendekatan berbasis peran yang melengkapi pendekatan berjenjang Miller's Pyramid. Perlu dicatat bahwa Royal College bersama mitra pendidikan kedokteran Kanada tengah menyelesaikan pembaruan menyeluruh kerangka ini, dengan rencana peluncuran pada musim gugur 2026, sehingga pelatih klinis Indonesia yang mengikuti literatur internasional perlu memantau perkembangan tersebut.

1.1 Mengapa Andragogi, Bukan Sekadar Pedagogi

Pendidikan dokter subspesialis berbeda secara mendasar dari pendidikan kedokteran dasar karena pesertanya adalah profesional dewasa yang telah menuntaskan pendidikan Sp.OG, memiliki pengalaman klinis substansial, dan datang dengan motivasi intrinsik yang spesifik terhadap peran barunya sebagai konsultan Obstetri Ginekologi Sosial. Malcolm Knowles merumuskan enam asumsi andragogi yang menjadi dasar filosofis pendidikan klinis subspesialistik: kebutuhan untuk mengetahui alasan pembelajaran (need to know), konsep diri peserta didik sebagai pribadi yang mandiri (self-directing), peran pengalaman sebelumnya sebagai sumber belajar, kesiapan belajar yang berorientasi pada peran sosial dan tugas kehidupan nyata, orientasi belajar yang berpusat pada masalah (problem-centered) bukan mata pelajaran (subject-centered), serta motivasi yang lebih banyak berasal dari faktor internal dibanding eksternal.

Dalam konteks pendidikan klinis Obginsos, prinsip andragogi ini diterjemahkan menjadi beberapa konsekuensi praktis bagi pelatih. Pertama, setiap sesi pembelajaran—baik bedside teaching, diskusi kasus, maupun pelatihan keterampilan prosedural—perlu dibuka dengan penjelasan relevansi klinis yang eksplisit, bukan sekadar penyampaian teori. Kedua, pelatih perlu memosisikan diri sebagai fasilitator dan mitra reflektif, bukan sebagai figur otoritas tunggal yang mendikte jawaban benar-salah, mengingat peserta didik semester akhir umumnya telah memiliki pengalaman klinis independen sebagai spesialis Obstetri dan Ginekologi. Ketiga, pengalaman klinis peserta didik—termasuk kasus sulit yang pernah ditangani sebagai Sp.OG umum—harus secara aktif digali dan dijadikan bahan diskusi, bukan diabaikan. Keempat, materi pembelajaran idealnya disusun berbasis masalah biopsikososial nyata (problem-based) yang relevan dengan peran subspesialistik, seperti kasus kehamilan remaja dengan dimensi hukum, atau kekerasan berbasis gender yang memerlukan koordinasi lintas profesi.

1.2 Miller's Pyramid: Kerangka Hierarkis Kompetensi Klinis

George Miller pada tahun 1990 memperkenalkan kerangka piramida empat tingkat yang hingga kini menjadi rujukan universal dalam desain kurikulum dan penilaian kompetensi kedokteran, termasuk dalam pendidikan subspesialis. Piramida ini menggambarkan hierarki kompetensi dari dasar kognitif menuju perilaku aktual di tempat kerja, dengan setiap tingkat memerlukan metode penilaian yang berbeda karena mengukur konstruk yang berbeda pula.

Tingkat Konstruk Contoh Penerapan pada Obginsos Metode Penilaian Sesuai Knows (Tahu) Pengetahuan faktual dan konseptual Peserta didik mampu menjelaskan kriteria diagnostik depresi perinatal menurut DSM-5 dan faktor risiko biopsikososialnya Ujian tulis (MCQ, esai terstruktur), kuis daring Knows How (Tahu Bagaimana) Kemampuan mengaplikasikan pengetahuan pada situasi hipotetis Peserta didik mampu menyusun rencana tata laksana kasus simulasi kehamilan tidak diinginkan pada remaja dengan mempertimbangkan aspek hukum dan psikososial Soal vignette klinis, extended matching question, oral case-based discussion Shows How (Menunjukkan Bagaimana) Kemampuan mendemonstrasikan keterampilan dalam kondisi terkontrol/simulasi Peserta didik mendemonstrasikan wawancara skrining kekerasan dalam rumah tangga menggunakan teknik komunikasi berpusat pasien pada stasiun OSCE OSCE, simulasi pasien standar, penilaian berbasis rubrik (checklist/global rating) Does (Melakukan) Perilaku aktual pada praktik klinis nyata sehari-hari Peserta didik secara konsisten menerapkan pendekatan biopsikososial saat menangani pasien kekerasan berbasis gender di poliklinik/bangsal Workplace-based assessment: mini-CEX, DOPS, portofolio, penilaian 360 derajat

1.2.1 Dua Tingkat Kognitif: Knows dan Knows How

Dua tingkat dasar piramida—knows dan knows how—berada pada domain kognitif dan secara tradisional diukur melalui instrumen tertulis atau lisan. Pada tingkat knows, penilaian berfokus pada penguasaan fakta, konsep, dan prinsip, misalnya pengetahuan tentang epidemiologi kehamilan remaja di Indonesia atau kerangka hukum UU TPKS. Pada tingkat knows how, peserta didik dituntut mengaplikasikan pengetahuan tersebut pada skenario klinis tertulis, seperti menyusun algoritma rujukan lintas profesi untuk kasus KDRT dengan mempertimbangkan keterbatasan sumber daya di fasilitas kesehatan primer. Kelemahan utama kedua metode ini adalah keduanya tidak dapat memastikan peserta didik benar-benar mampu melakukan tindakan tersebut secara nyata; seorang peserta didik dapat menjawab soal dengan sempurna namun kesulitan menerapkannya di hadapan pasien yang sesungguhnya.

1.2.2 Dua Tingkat Perilaku: Shows How dan Does

Dua tingkat atas piramida bersifat behavioral dan memerlukan observasi langsung. Shows how diukur dalam lingkungan simulasi atau semi-terkontrol seperti OSCE, di mana peserta didik didemonstrasikan melakukan keterampilan tertentu di hadapan penguji dengan pasien standar atau manekin. Tingkat ini penting karena memberi kesempatan berlatih dan dinilai tanpa risiko terhadap pasien sungguhan, terutama untuk keterampilan sensitif seperti wawancara korban kekerasan seksual. Adapun does merupakan tingkat tertinggi dan paling sulit dinilai karena menuntut observasi perilaku nyata di lingkungan kerja otentik, tanpa peserta didik menyadari sedang dinilai secara ketat—sering disebut sebagai 'unobtrusive assessment'. Untuk Obginsos, tingkat does dapat dinilai melalui rekam jejak longitudinal penanganan kasus biopsikososial di poliklinik rujukan, umpan balik dari tim lintas profesi (psikolog, pekerja sosial), dan review portofolio kasus yang ditangani selama rotasi klinis.

1.3 Aplikasi Praktis Miller's Pyramid pada Kurikulum Obginsos

Penerapan Miller's Pyramid dalam kurikulum PPDS Obginsos idealnya bersifat progresif dan longitudinal. Pada semester awal program (semester 1–2), penekanan kurikulum berada pada tingkat knows dan knows how melalui kuliah, telaah literatur, dan diskusi kasus tertulis mengenai kerangka biopsikososial, kesehatan mental perinatal, dan aspek medikolegal. Memasuki semester 3–4, penekanan bergeser ke shows how melalui simulasi terstruktur, termasuk OSCE formatif yang menilai keterampilan komunikasi krisis dan prosedur klinis spesifik. Pada semester akhir (4–5), sebagaimana relevan dengan peserta didik sasaran buku ini, penekanan seharusnya telah bergeser signifikan ke tingkat does, di mana peserta didik tidak hanya dinilai sebagai pembelajar tetapi mulai berperan sebagai pelatih bagi residen Obstetri dan Ginekologi junior—suatu transisi peran yang menjadi inti pembahasan pada bab-bab selanjutnya dalam buku ini.

Penting bagi pelatih klinis untuk menyadari bahwa kegagalan performa pada tingkat does tidak selalu mencerminkan kekurangan pengetahuan (knows), melainkan dapat disebabkan oleh faktor sistem seperti beban kerja berlebih, kurangnya dukungan supervisi, atau hambatan struktural dalam layanan. Miller sendiri menekankan bahwa piramida ini bukan sekadar alat ukur tetapi juga kerangka diagnostik untuk mengidentifikasi pada tingkat mana kesenjangan kompetensi terjadi, sehingga intervensi pendidikan dapat ditargetkan secara tepat—apakah diperlukan penguatan pengetahuan, latihan simulasi tambahan, atau justru perbaikan sistem kerja dan dukungan supervisi di lapangan.

1.4 Penyelarasan dengan Tabel 19 Kepkonsil dan Kerangka Kompetensi Internasional

Miller's Pyramid bukan sekadar kerangka teoretis, melainkan fondasi metodologis di balik Tabel 19 (Kompetensi Penatalaksanaan Klinis Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis/Konsultan Obstetri Ginekologi Sosial) dalam Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia Nomor HK.01.02/KKI/1318/2026. Tabel 19 menjabarkan sembilan komponen kompetensi penatalaksanaan klinis secara berurutan—anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, interpretasi hasil, diagnosis kerja dan banding, perencanaan terapi, evaluasi respons dan penyesuaian, penetapan prognosis, serta dokumentasi medis dan komunikasi—yang masing-masing disertai deskripsi kriteria kinerja minimal dan indikator kuantitatif (mis. dokumentasi kekerasan dalam rumah tangga 100%, penanganan kegawatdaruratan maternal sesuai protokol 100%, akurasi diagnosis kerja ≥85% melalui penilaian sejawat). Struktur ini pada dasarnya adalah operasionalisasi tingkat does pada Miller's Pyramid: setiap kriteria kinerja minimal dirumuskan sebagai perilaku klinis terukur di tempat kerja nyata, bukan sekadar pengetahuan yang diujikan secara tertulis, sehingga pelatih klinis wajib merancang metode penilaian workplace-based (mini-CEX, DOPS, portofolio) agar benar-benar selaras dengan maksud regulasi ini, bukan hanya mengandalkan ujian tertulis yang secara metodologis hanya mengukur tingkat knows dan knows how.

Padanan internasional kerangka ini dapat dilihat pada dua model kompetensi yang banyak diadopsi program pendidikan kedokteran pascasarjana di berbagai negara. Pertama, ACGME (Accreditation Council for Graduate Medical Education) bersama American Board of Obstetrics and Gynecology (ABOG) dan American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menerbitkan Milestones Project pada tahun 2014, yang menyusun kompetensi residensi Obstetri dan Ginekologi ke dalam dua puluh delapan sumbu kompetensi (competency axes) yang dijenjangkan pada lima tingkat pencapaian (milestones), serupa dengan logika hierarkis Miller's Pyramid namun dengan granularitas lebih tinggi. Kedua, CanMEDS Physician Competency Framework yang diterbitkan Royal College of Physicians and Surgeons of Canada—edisi terbaru CanMEDS 2015 masih menjadi rujukan resmi hingga saat buku ini disusun—mengorganisasi kompetensi dokter ke dalam tujuh peran (Medical Expert, Communicator, Collaborator, Leader, Health Advocate, Scholar, Professional), sebuah pendekatan berbasis peran yang melengkapi pendekatan berjenjang Miller's Pyramid. Perlu dicatat bahwa Royal College bersama mitra pendidikan kedokteran Kanada tengah menyelesaikan pembaruan menyeluruh kerangka ini, dengan rencana peluncuran pada musim gugur 2026, sehingga pelatih klinis Indonesia yang mengikuti literatur internasional perlu memantau perkembangan tersebut.

PERBEDAAN STANDAR INTERNASIONAL vs KONTEKS INDONESIA • Standar internasional (ACGME Milestones, CanMEDS) memberikan kerangka kompetensi generik lintas spesialisasi yang kemudian diadaptasi oleh masing-masing program residensi/subspesialisasi di negara asalnya, dengan penekanan besar pada peran non-klinis seperti kepemimpinan sistem kesehatan dan advokasi. • Konteks Indonesia mewajibkan penggunaan Tabel 19 Kepkonsil Nomor HK.01.02/KKI/1318/2026 sebagai rujukan hukum tunggal untuk kompetensi penatalaksanaan klinis subspesialis Obginsos, dengan indikator kinerja yang lebih spesifik dan terukur secara kuantitatif dibanding milestone generik ACGME. • Catatan penerapan praktis: pelatih klinis dapat memanfaatkan struktur milestone ACGME atau peran CanMEDS sebagai kerangka pelengkap untuk merancang instrumen penilaian workplace-based, selama capaian akhir tetap dapat ditelusuri secara eksplisit ke sembilan komponen kompetensi pada Tabel 19 Kepkonsil.

VIGNETTE KASUS (ILUSTRATIF, FIKTIF) dr. Rani, peserta didik semester 5 PPDS Obginsos, ditugaskan membimbing residen Obstetri dan Ginekologi tingkat III yang akan menangani kasus dugaan kekerasan dalam rumah tangga. Residen tersebut mampu menjawab dengan baik saat ditanya lisan mengenai protokol skrining KDRT (tingkat knows dan knows how), namun tampak kaku dan menghindari kontak mata saat benar-benar mewawancarai pasien di ruang periksa (tingkat shows how/does belum tercapai, dan dokumentasi KDRT sebagaimana diwajibkan Tabel 19 belum lengkap). Dengan memahami Miller's Pyramid, dr. Rani menyadari bahwa masalah bukan pada pengetahuan residen, melainkan pada transfer pengetahuan menjadi keterampilan komunikasi nyata, sehingga ia merancang sesi microteaching terfokus pada teknik wawancara sebelum residen kembali menemui pasien.

POIN KUNCI • Andragogi Knowles menekankan bahwa peserta didik dewasa belajar optimal ketika relevansi klinis eksplisit, pengalaman mereka dihargai, dan pembelajaran berorientasi masalah nyata. • Miller's Pyramid terdiri atas empat tingkat: knows, knows how, shows how, dan does, tersusun dari domain kognitif menuju domain perilaku. • Setiap tingkat piramida memerlukan metode penilaian yang berbeda; menyamaratakan metode penilaian pada seluruh tingkat akan menghasilkan kesimpulan kompetensi yang keliru. • Tingkat shows how dinilai melalui simulasi terstruktur seperti OSCE, sedangkan tingkat does memerlukan observasi perilaku otentik di tempat kerja seperti mini-CEX dan portofolio. • Kegagalan pada tingkat does dapat disebabkan oleh faktor sistem, bukan semata kekurangan pengetahuan, sehingga pelatih perlu melakukan diagnosis kesenjangan kompetensi secara cermat. • Sembilan komponen kompetensi penatalaksanaan klinis pada Tabel 19 Kepkonsil Nomor HK.01.02/KKI/1318/2026 pada dasarnya adalah operasionalisasi tingkat does dalam konteks Obginsos, dengan kriteria kinerja minimal yang terukur secara kuantitatif. • Kerangka internasional seperti ACGME Milestones (2014) dan CanMEDS (edisi 2015, dengan pembaruan direncanakan rilis musim gugur 2026) dapat melengkapi—bukan menggantikan—rujukan hukum Tabel 19 Kepkonsil dalam merancang penilaian workplace-based di Indonesia. • Bagi peserta didik semester akhir PPDS Obginsos, penerapan Miller's Pyramid tidak hanya sebagai pembelajar tetapi juga sebagai pelatih bagi residen junior merupakan kompetensi inti yang harus dikuasai.

Pertanyaan Diskusi
Jawab pertanyaan berikut pada halaman forum diskusi bersama. Mahasiswa dinyatakan aktif apabila menjawab minimal 2 pertanyaan dosen pada modul ini.
  • Bagaimana prinsip andragogi (pendidikan orang dewasa) berbeda dari pedagogi dalam konteks pendidikan residen?
  • Pada level Miller's Pyramid mana (knows, knows how, shows how, does) sebagian besar penilaian OSCE berada?
Referensi

Buku 12 + Pedoman Pelatihan Trainer — Seri Buku Ajar Obstetri Ginekologi Sosial.

Keputusan Ketua Konsil Kesehatan Indonesia Nomor HK.01.02/KKI/1318/2026 tentang Standar Kompetensi Dokter Spesialis dan Subspesialis Bidang Obstetri dan Ginekologi.